Tuesday, February 23, 2016

Gerbong Pelintas Waktu



Gerbong Pelintas Waktu

          Daun masih basah sisa hujan semalam. Jalan aspal berlubang itu airnya masih belum kering. Januari ini musim mulai berganti. Langit yang biasanya menampakkan kegagahan matahari kini tak nampak lagi. Matahari memilih pergi, menjauh meninggalkan langit. Langit jadi masam, muram, seperti wajah lelaki kalut. Gumpalan awan kelam yang menari-nari seperti melakukan gerakan ritual pemanggil hujan. 
           Ibu-ibu dengan anaknya, bapak setengah baya memakai topi. Mereka bergegas, berlari menuju stasiun kereta api. Bukan menghindari kucuran air dari langit. Mereka menuju stasiun kereta. Bangku kayu di sudut stasiun jadi perburuan. Berbagai raut wajah berkumpul dalam ruang antrian loket kereta. Kelambu biru penutup kaca loket belum dibuka. Lubang sebesar gelas minum juga masih tertutup kerdus. Terlihat kepala stasiun berjalan ke luar. Menyambut kereta yang melintas di depan stasiun. Anak kecil sudah mulai merengek tak sabar menunggu loket terbuka. Tapi selambu biru itu masih menutup loket kaca. Ibunya mengendong, menenangkan dan mendekapnya. Wanita bersolek dan berseragam biru membuka selambu loket. Kerdus penutup lubang sebesar gelas juga diambilnya. Mereka yang duduk di bangku kayu mulai berdiri mengantri. Dengan senyum tipis wanita dalam ruang berkaca melayani. Bunyi cetakan tiket terdengar nyaring mengeluarkan selembar kertas tiket. Satu demi satu pemilik raut wajah itu mengantri mengambil tiket.
            Di luar langit meneteskan gemricik air hujan. Tapi kepala stasiun kereta itu masih setia berdiri dan memberi salam kepada setiap kereta yang melintasi stasiun. Sebungkus kacang rebus yang dimakan anak kecil berbaju hijau bergambar salah satu grup band sudah hampir habis. Dia bertanya kepada ibunya “mana kereta kita Bu?” Sabar ya nak" saut ibu itu. Tak lama berselang terdengar suara bel. Kloneng, kloneng, kloneng bunyi lonceng terdengar, dari pengeras suara diumumkan kereta yang akan mengantar mereka akan tiba. Terdengar suara kereta datang kemudian berhenti kereta datang perlahan lalu berhenti. Mereka berlarian menuju gerbong berharap masih ada kursi kosong atau ada tempat yang paling tidak cukup untuk menyandarkan punggung. Akupun juga demikian. Namun ada yang berdiri di lorong dekat pintu keluar kereta. Kereta hanya berhenti sebentar. Dengan diiringi gemricik dari air hujan yang nampak di jendela kaca. Kereta melaju lagi.
            Berbagai macam raut dan mimik wajah berkumpul dalam satu gerbong. Di salah satu sudut ada segombolan orang. Mereka terlihat asik dalam obrolan ringan. Di salah satu tempat duduk juga terlihat seorang yang tidur. Ku lihat juga seorang ibu duduk bersebelahan dengan anaknya yang lucu dengan rambut berponinya. Anak itu sungguh menikmati makanan sampai belepotan dan ibunya mencoba membersihkan sisa makanan yang ada di mukanya. Laju kereta mulai terasa pelan. Ternyata kereta akan berhenti lagi di sebuah stasiun. Tapi bukan stasiun itu tujuan terakhir dari perjalanan kereta ini.
            Orang – orang terlihat keluar dan ada beberapa yang naik juga. Aku dapati seorang gadis yang rambutnya diikat. Dia memakai baju ungu. Hujan telah berhenti di stasiun ini. Tapi seolah petir menyambar ingatanku akan rupa yang tak asing itu. Dia duduk dalam gerbong yang sama denganku. Dia duduk ditempat yang bisa ku lihat dari tempatku bersandar. Kereta melaju lagi. Dan ingatanku mulai mencoba mengingat kembali. Samar terlihat dalam benak seperti jendela kaca yang ada di gerbong ini yang mengembun setelah hujan tadi.
            Gerbong ini sungguh membawaku melintasi waktu yang berlalu. Seiring berjalan ke depan gerbong ini. Ingatanku kembali mencoba mengingat seraut wajah tak asing itu. Ingatanku pertama tertuju kepada bau parfum yang disemprotkan di tubuhnya. Bagaimana cara tertawanya yang ceria dan lepasnya. Sorot mata serta cara berjalannya. Semua mulai nampak jelas dalam ingatan akan satu nama itu. Aku mencuri - curi melihat gadis itu sekilas lagi. Terlintas dalam ingatanku akan kejadian pagi itu, saat dia memanggil namaku. Ku lihat wajahnya melukiskan senyum kepadaku. Ah, semakin lama ingatan ini bergerak dengan liar dan tidak akan  aku biarkan berjalan lebih jauh lagi. Ku palingkan tempat dudukku. Berusaha tidak menatapnya. Masih saja ingatanku berputar mengingatnya. Akhirnya aku putuskan berpindah ke gerbong lain. Mencari tempat duduk kosong. Ternyata cara ini tidak cukup ampuh untuk menghindarkan ingatanku yang sudah terlanjur berputar menuju satu arah. Kepalaku sudah dipenuhi rupa dan segala tingkah tentangnya.
            Aku bertanya kepada hati. Apakah perjalanan dari gerbong ini sungguh benar meninggalkan. Atau jangan-jangan gerbong ini mengarahkanku kepada yang tertinggal. Apakah perjalanan gerbong ini membawa ke ruang yang jauh. Atau jangan – jangan membuat kembali ke ruang lalu. Apakah perjalanan gerbong ini sungguh melintasi waktu. Atau jangan – jangan membawa kembali ke masa lalu. Ah, gerbong ini sungguh bagaikan mesin waktu. Memutar segala kenangan dan mengarahkanku ke suatu ruang dan waktu. Tanpa bisa aku mengerem menghentikannya menuju tempat muara sosok itu.
            Sama halnya sisa hujan di luar gerbong. Perlu waktu untuk kering. Namun akan menggenang kembali jika terkena hujan lagi. Terus sampai kapan akan mengering jika musim belum berganti. Ataukah akan kembali basah dan menggenang lagi jika musim hujan akan tiba lagi meskipun tahun berganti. Apakah sama ingatan juga seperti itu. Adakah cara menambal genangan air itu. Ataukah akan seperti itu seterusnya.
            Ku ambil air minum yang aku bawa. Aku teguk untuk membasahi kerongkongan. Aku makan sepotong roti yang ada dalam tasku. Kemudian aku pejamkan mataku. Aku tak takut akan salah stasiun tempat aku turun. Karena stasiun terakhirlah tujuanku. Aku biarkan ingatanku tentang wanita itu mengalir dalam tidurku. Ku biarkan ingatan liar ini menari – nari memanggil namanya.
            Seperti stasiun. Setiap hari akan ada yang datang dan pergi. Setiap hari juga akan ada pertemuan dan perpisahan. Maka di setiap sela waktu datang dan pergi. Atau waktu bertemu dan berpisah. Pasti ada sebuah kenangan yang terjadi. Biarkan saja kenangan itu tersusun indah dan rapi seperti gerbong yang saling mengikat erat. Dan jika gerbong itu rusak dan tak terpakai. Maka tumpuk saja dan letakkan di tempat yang bisa terlihat. Tak perlu susah – susah untuk mengubur atau meleburnya. Agar bisa mengingat dan mengenang kembali segala memori dan ingatan akan sejuta sosok yang pernah singgah di gerbong itu.
            Aku pun demikian. Ku biarkan saja ingatan liar ini menyusun sendiri menjadi rangkaian gerbong ingatan yang membawaku kembali tentang dia. Karena pasti akan ada stasiun tempat berhenti dan akan menggantikan gerbong ingatan ini.

Note :
Cerpen ini saya buat karena terinspirasi oleh tumpukan gerbong yang ada di stasiun Purwakarta. Tumpukan gerbong ini tersusun sangat rapi. Sungguh menarik dan indah dipandang mata meskipun terdiri dari Tumpukan gerbong bekas.

Tumpukan Gerbong Bekas di Stasiun Purwakarta.

Cerita ini masih ada kelanjutannya lagi. Karena ini hanya penggalan awal cerita fiksi yang saya buat. 

Sunday, January 17, 2016

Indahnya Jalur Dari Pacet ke Batu Malang Lewat Cangar


Indahnya Jalur Dari Pacet ke Batu Malang Lewat Cangar

         Saat berakhir pekan, kota Batu banyak sekali dikunjungi pengunjung yang akan berwisata ke sana. Akses jalan menuju ke Kota Batu juga tentunya padat dan sangat macet. Untuk menghindari kemacetan ini biasanya banyak yang lewat jalur alternatif menuju kesana. Salah satunya lewat jalur Pacet Kabupaten Mojokerto. Jalur ini akan melewati Cangar, suatu daerah yang masuk dalam Taman Hutan Rakyat. Jalur yang dilewati memang sedikit ekstrem. Dan kontur jalannya yang berliku dan tanjakan tajam. Selain memerlukan kondisi mesin yang sangat prima untuk melibas setiap tanjakan, tentunya kondisi pengendara juga. Disinilah letak petualangannya. Memang jalur Cangar ini sangat terkenal dikalangan pecinta touring, baik motor atau mobil. Tidak heran setiap akhir pekan akan menjumpai rombongan touring motor yang akan lewat sini.

         Namun dibalik ke-esktriman jalurnya ini. Pemandangan alam di setiap perjalanan juga menyuguhkan panorama alam yang luar biasa indah. Hutan yang masih asri, area perkebunan dan persawahan, bukit - bukit dan tentunya panorama indah dari pegunungan sekitar seperti Welirang dan Arjuno.Selain pemandangan indah disini juga udaranya sangat segar. Jadi saat lewat kesini jika ingin merasakan sejuknya hawa khas daerah pegunungan, sebaiknya mematikan pendingin mobil dan buka jendela.

Bukit Pegunungan di Cangar 

Area Persawahan dengan Latar Belakang Pegunungan

Salah Satu Pedesaan di Lereng Pegunungan

Perkebunan dan Persawahan 

Petani yang sedang Menyemprot Pupuk dari Kejauhan

Di sepanjang jalan Pacet - Batu Malang, juga tersedia beberapa rest area yang biasanya digunakan oleh pengendara untuk mendinginkan mesin. Namun jangan khawatir, di rest area disini juga banyak dijumpai penjual makanan. Dan jika ada yang ingin membeli sayur dari kebun langsung juga bisa. Karena tak jarang petani juga menjual langsung hasil sawah dan kebunnya kepada pengunjung. 

Ada beberapa tips dan informasi jika pengendara ingin melewati jalur ini :
1. Pastikan kondisi kendaraan benar - benar prima, mulai dari mesin, kampas rem, kampas kopling atau bagian mobil yang lain juga harus bekerja sesuai standar pengoperasian dan keselamatan.
2. Selain kondisi kendaraan, juga kondisi pengemudi juga harus prima.
3. Saat melewati belokan dimohon membunyikan klakson atau memberi tanda, karena jalur disini belokannya sangat curam dan terkadang ada yang sampai tidak bisa terlihat ada kendaraan dari arah depan.
4. Daerah ini sering terjadi kabut dan sering  hujan meskipun tidak kondisi hujan, dan akan menyebabkan jarak pandang akan terbatas, jika hal ini terjadi, maka pengendara juga harus menghidupkan lampu.
5. Jalur ini ada yang menyempit di beberapa bagian, dan biasanya akan ada petugas yang akan mengatur arus lalu lintas, maka di mohon mentaati pengarahan dari petugas tersebut.
6. Selalu berhati - hati dan jangan memaksakan kondisi tubuh, jika ngantuk dan capek beristirahat saja dulu di beberapa rest area yang disediakan

SELAMAT MENJELAJAH 
INDAHNYA ALAM INDONESIA


 
 
 


Monday, January 11, 2016

Berakhir Pekan ke Coban Talun

Berakhir Pekan Ke Coban Talun

        Akhir pekan memang asik jika diisi dengan kegiatan berekreasi atau tamasya untuk menyegarkan kembali pikiran. Mengunjungi tempat yang asri dan tentunya masih alami akan dapat membuat tubuh menjadi lebih sehat lagi. Berwisata ke alam dan menikmati pemandangan alam merupakan salah satu contohnya. Akhir pekan ini bersama kedua teman, aku berekreasi ke Air Terjun Coban Talun. Air terjun ini berada di kawasan wisata Kota Batu Malang. Seperti yang diketahui bahwa Kota Batu memang memiliki berbagai macam destinasi wisata yang ditawarkan. Air terjun ini tepatnya berada di desa Tulung Rejo, Kecamatan Bumiaji Kota malang.

        Dari tempat parkir,  kita menyusuri sungai dan selanjutnya akan melewati hutan pinus yang cantik. Pihak pengelola juga menyediakan penunjuk jalan menuju ke air terjun, jadi tidak perlu khawatir akan tersesat. Di lokasi ini juga terdapat area perkemahan luas, jadi jika ingin merasakan sensasi lain, dapat berkemah di lokasi yang disediakan. Selain itu di area ini juga banyak sekali warung berjejeran, jadi tak perlu khawatir jika ingin makan atau sekedar mengisi perut setelah perjalanan menuju area wisata air terjun ini, atau sehabis berekreasi di tempat ini, dan tak perlu khawatir, harga makanan disini terjangkau dan tentunya enak.

Aliran Sungai

Setelah bertemu aliran sungai ini, ada sebuah jembatan menuju hutan pinus. Selanjutnya akan memasuki hutan pinus yang cantik dan hijau. Pemandangan pohon pinus yang berjajar rapi serta gesekan dahan antar pohon menambah suasana asri tracking menuju air terjun.

 Hutan Pinus

Setelah melewati hutan pinus, kemudian akan memasuki jalur turunan yang masih rimbun. Jalur yang didominasi oleh tanah liat membuat sedikit licin menuju ke air terjun. Apalagi beberapa jalur juga sangat curam dan licin sekali, apalagi musim hujan seperti ini. Tak jarang beberapa pengunjung terpeleset melewati jalur ini.


Jalur menuju ke Air Terjun

Setelah berjalan lebih dari setengah jam, kita bisa melihat air terjun ini dari jalur ini. Dari kejauhan terlihat pemandangan yang sangat indah. Air yang keluar dari celah - celah tebing bebatuan dengan dikelilingi oleh pepohonan hijau membuat takjub mata. Sudah tak sabar, bagaimana dengan pemandangan air terjun ini dari dekat. Namun untuk menuju ke air terjun masih harus menuruni jalur ini.

Air Terjun dari Kejauhan

Hutan yang masih rimbun dan tentunya udara yang sangat segar sangat terasa sepanjang jalur menuju air terjun. Setelah hampir sejam berjalan tibalah di bawah air terjun. Dan memang air terjun ini sangat memukau. Derasnya air yang turun dari tebing - tebing dan deburan airnya sampai membasahi baju.

Air Terjun Coban Talun

Pepohonan serta tumbuhan lain di sekitar air terjun ini yang masih hijau, membuat betah berlama - lama disini, namun karena air yang sedikit keruh karena bercampur dengan lumpur yang terbawa dari atas tebing, mengurungkan niat untuk mandi disini. Air terjun yang indah serta kondisi alam yang masih asri seperti ini sangat disayangkan karena banyak sekali dijumpai sampah yang berserakan. Memang di lokasi air terjun ini tidak disediakan sebuah tempat penampungan sampah. Namun, kesadaran dari pengunjung akan pentingnya kebersihan dan keindahan juga harus ditingkatkan. Sangat disayangkan jika pemandangan alam yang luar biasa inidah ini harus rusak dan kotor.

Tips dan Saran :
1. jika ke air terjun ini, harap memakai sandal atau sepatu untuk kegiatan di alam, karena kita akan melewati jalur yang sedikit curam dan berat.
2. membawa persediaan air minum.
3. jangan mandi atau bermain air tepat di bawah guyuran air terjun karena dikhawatirkan tertimpa benda yang ikut terbawa air dari atas tebing.
4. jika mandi atau bermain air, jangan menggunakan sabun atau bahan kimia yang mengandung detergen, untuk menjaga kelestarian dan kebersihan air.
5. Membawa sisa makanan atau bungkus makanan kembali ke atas untuk menjaga kebersihan air terjun ini.
6. Selalu mentaati pertaturan yang berlaku di ruang informasi atau di pintu masuk lokasi air terjun.


SELALU JAGA KEBERSIHAN DAN BUANG SAMPAH PADA TEMPATNYA
MARI MENJAGA ALAM KITA AGAR TETAP INDAH



Thursday, December 31, 2015

Segarnya Air Terjun Kembar, Watu Ondo di Kawasan Cangar Pacet Mojokerto

Keindahan Tersembunyi Di Kaki Gunung Welirang,  Air Terjun Watu Ondo

      Gunung Welirang Gunung dengan ketinggian 3.156 mdpl ini menyimpan banyak potensi keindahan alam. Secara administratif gunung ini terletak di perbatasan Kabupaten Mojokerto, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Malang dan Kota Batu. Di salah satu daerah di lereng Gunung Welirang yang berbatasan antara Kabupaten Mojokerto dan Kota Batu, tepatnya di daerah Cangar Pacet Mojokerto, terdapat sebuah air terjun yang indah. Meskipun lokasi air terjun ini tidak sulit, namun banyak sekali orang yang belum mengetahuinya. Hal ini dikarenakan pihak pengelola kurang dalam promosi air terjun ini. Air terjun ini bernama Watu Ondo, atau biasa orang sekitar menyebut Coban Kembar. Hal ini dikarenakan ada dua air terjun bersebelahan dalam satu lokasi. 
        
        Air Terjun Watu Ondo ini terletak di kawasan Taman Hutan Rakyat (Tahura) Raden Soeryo. Air terjun ini memiliki ketinggian kurang lebih 69 meter. Sementara air tejun yang satunya lagi yang lebih kecil yaitu sekitar 15 meter. Kedua air terjun ini memiliki sumber air yang berbeda namun bertemu dalam satu telaga kecil yang dangkal. Nama air terjun Watu Ondo ini menurut informasi dari pengelola berasal dari Watu yang artinya Batu sedangkan Ondo merupakan bahasa jawa dari Anak Tangga. Hal ini dikarenakan jalan menuju air terjun itu sendiri yang berupa turunan anak tangga yang berasal dari bebatuan.

       Saat berjalan dari pintu masuk menuju bawah air terjun, terlihat indahnya air terjun Watu Ondo ini dari kejauhan. Air yang meluncur dari bebatuan dan sedikit sinar matahari menambah keindahan tempat ini dari kejauhan. Aku langkahkan kaki menuju ke bawah air terjun. Jalan yang dilewati sediikit curam tapi tenang saja jika capek, sudah ada beberapa tempat duduk yang sudah disiapkan pengelola untuk beristirahat sejanak.

     Suasana yang masih asri dan tentunya masih alami ini sayang jika tidak dilestarikan dan dijaga kebersihannya. Terkadang tak jarang disini akan menjumpai sekawanan kera atau burung-burung yang masih berkeliran bebas disini. Derasnya guyuran air terjun ini menambah suasana sejuk dan ingin berlama-lama disini. Jika ingin sekedar bermain air atau mandi, maka jangan tepat dibawah air terjun yang tinggi. Karena disini juga ada papan peringatan yang melarang kita mandi atau bermain air di air terjun ini. Dikarenakan kita tidak mengetahui hal apa yang terjadi di sumber jatuhnya air diatas. Kan gak lucu tiba-tiba diatas air terjun ini ada longsor sehingga batuan atau terkadang bongkahan kayu yang jatuh ikut kebawa arus meluncur dari atas terus mengenai kita. Jadi main di telaga kecil yang ada saja. Tak lupa aku mengabadikan beberapa foto keindahan air terjun Watu Ondo ini dari kamera yang saya bawa.

Air Terjun Watu Ondo dari Kejauhan

 Air Terjun Watu Ono yang Tinggi


Air Terjun Watu Ondo yang Kecil 


Panorama Kedua Air Terjun


Anak Tangga Jalur ke Air Terjun

Air Terjun dari Atas


Transportasi : 
Untuk mencapai air terjun ini aku saranin menggunakan kendaraan Pribadi. Ada dua jalur yaitu dari arah Kecamatan Pacet Mojokerto atau dari Batu Malang menuju Cangar. Dengan kondisi jalan beraspal yang relative masih bagus dengan medan jalan yang hampir semuanya berkontur naik dan turun serta berkelok-kelok, sangat menantang dan cocok bagi para sobat traveler yang mempunyai hobi touring dengan motor. Bila sobat traveler menuju air terjun Watu Ondo dari arah Pacet-Mojokerto pintu masuk air terjun Watu Ondo akan berada di sebelah kiri jalan sebelum sebuah jembatan besar pertama yang berfungsi juga sebagai tanda wilayah Kabupaten Mojokerto dan Kabupaten Malang, namun bila dari arah Batu atau melewati pemandian Cangar sobat traveler dapat melihat tanda pintu masuk air terjun Watu Ondo berada di sisi sebelah kanan jalan setelah melalui dua buah jembatan besar yang berada di sebuah tikungan yang tajam dan menurun. Namun jika menggunakan kendaraan umum, maka jika dari terminal Pacet, kita harus menyewa angkot atau kendaraan menuju tempat ini. Namun jika dari Batu. Maka carilah aangkot menuju desa Sumber Brantas. Dari sini masih harus menyewa angkot lagi menuju air terjun ini.

Informasi dan Saran :
1. Jika ingin berkunjung ke air terjun ini, harap melapor ke tempat penjagaan, untuk mencari informasi tentang air terjun ini.
2. Selalu taati Peraturan yang berlaku di Papan Peringatan yang sudah disediakan.
3. Buang sampah pada tempat yang disediakan atau membawa sampah kembali keatas. Dan jangan mencoret-coret atau melakukan aksi vandalisme di batu-batu di arean air terjun ini. Tetap jaga kebersihan dan kelestarian alam ya.
4. Jangan membawa sabun atau shampo untuk mandi. Agar tidak mencemari air disini.
5. Dan yang terakhir berkunjung ke air terjun ini sangat recomended untuk mengisi akhir pekan sobat traveller. Karena selain tempatnya masih alami, udaranya segar, airnya dingin juga tidak mahal kok untuk biaya masuknya.


VISIT MOJOKERTO, VISIT EAST JAVA
VISIT INDONESIA

Wednesday, December 23, 2015

Keindahan Pantai Anoi Itam dan Peninggalan Perang Dunia ke-2

Pantai Anoi Itam dan Peninggalan Perang Dunia ke-2

       Pulau weh termasuk ke dalam salah satu pulau terluar di Indonesia. Letaknya di ujung barat pulau Sumatera dan masuk dalam Propinsi Nangroe Aceh Darussalam. Pulau ini tak hanya memiliki keindahan bahari saja. Panorama serta bentang alamnya juga sangat memikat. Pulau yang memiliki ibu kota di sabang ini memiliki banyak potensi wisata yang belum dikelola dengan baik atau bahkan tidak terawat.
      
        Di pulau yang menghadap langsung ke Samudera Hindia ini banyak sekali memiliki bangunan bersejarah yang menjadi saksi Perang dunia ke-2. Hampir di setiap sudut pulau ini tak jarang ditemukan bungker-bungker pertahanan yang dibuat oleh tentara Jepang. Penduduk setempat menamai tempat ini sebagai gua Jepang. Keberadaan bungker-bungker ini seharusnya menjadi aset untuk pengembangan wisata di daerah sabang. Salah satu bungker yang terkenal di pulau weh berlokasi di dekat Pantai Anoi Itam. Pantai ini terkenal di Sabang dengan pantai yang memiliki pasir hitam.

Panorama Pantai Anoi Itam

        Pasir hitam di Anoi itam berbeda dengan pasir hitam di pantai yang lain. Menurut informasi hal ini disebabkan karena terdapatnya kandungan biji logam yang terkandung dalam pasir tersebut. Meskipun panorama pantai Anoi itam ini sangat indah, namun pantai ini tergolong sepi oleh pengunjung. Bangunan bersejarah atau gua Jepangnya pun tidak terawat.

Lorong Menuju Gua

Meriam di dalam Bungker (Gua)

Di dalam goa ini juga masih terdapat meriam sisa - sisa peninggalan perang. Sangat disayangkan karena dinding - dinding bungker ini dipenuhi coretan oleh tangan yang tak bertanggung jawab.

Penampakan Bungker dari Luar

Pemandangan di Depan Bungker

Dilihat dari posisinya yang di atas bukit dan di tepi laut, lokasi ini memang sangat cocok untuk dijadikan lokasi pertahanan. Selain untuk mengintai musuh juga menyerangnya sekaligus dengan senjata yang dipersiapkan di dalam bungker ini jika musuh. Pemandangan pantai Anoi Itam juga sangat indah jika dilihat dari atas bukit ini.

Pemandangan Pantai Anoi Itam dari Atas Bungker (Gua)

Sayang sekali, peniggalan bersejarah serta keindahan alam ini kurang mendapat perhatian dan dari pengunjung juga kurang sadar akan nilai sejarah yang ada. Semoga keindahan pantai Anoi Itam dan Goa Jepang ini terjaga keasrian dan keindahannya agar bisa dinikmati oleh anak cucu kita. Dan bagi pengunjung dimohon untuk selalu menjaga kebersihan dan lebih bertanggung jawab akan kelestarian alam dan sekitar.

AYO BERKUNJUNG KE ACEH
DAN SELALU JAGA KEBERSIHAN TEMPAT WISATA !!!

INDONESIA DANGEREOUSLY BEAUTIFUL 


Monday, November 2, 2015

Bawakaraeng Gunung Favorit di Kota Daeng

 Bawakaraeng Gunung Favorit di Kota Daeng


           Bergeser ke arah kabupaten Gowa, yang letaknya sekitar 80 km dari kota Makassar tepatnya di daerah Malino. Di daerah ini terdapat sebuah pegunungan yang tidak pernah sepi didaki oleh para pendaki bukan hanya dari daerah makassar namun juga daerah lainnya. Gunung tersebut bernama Bawakaraeng. menurut warga di sekitar gunung arti kata Bawakaraeng adalah, Bawa yang berarti mulut dan Karaeng yang berarti Tuhan, jadi artinya Gunung Mulut Tuhan. Gunung ini memiliki ketinggian 2830 MDPL dengan jalur tracking yang tidak terlalu terjal namun panjang. Kalau saya boleh berpendapat bahwa gunung Bawakaraeng ini adalah pegunungan berbukit - bukit. Karena untuk mencapai puncak kita tidak hanya disuguhi dengan jalur tanjakan, namun ada di beberapa jalur kita harus turun untuk mencapai pos pendakian, kemudian disuguhi jalur menanjak yang cukup menguras tenaga.

           Gunung Bawakaraeng ini bener-bener favorit di kota Daeng, bahkan bukan hari libur atau weekend saja masih banyak pendaki yang dijumpai. Memang gunung ini menyuguhkan panarama lenskep alam yang memukau. Dan bukan puncaknya saja tujuan utama para pendaki, karena di beberapa lereng pegunungan banyak sekali tempat untuk sekedar berkemah dan tempat-tempat indah yang memanjakan mata, seperti lembah rama, danau tanralili dan masih banyak lagi yang belum terekspos.

            Saya akan sedikit bercerita dalam tulisan ini tentang perjalanan saya sampai ke puncak Bawakaraeng bersama beberapa teman. Hari minggu 18 Oktober 2015 sekitar pukul 10.30 WITA kami berangkat menuju Malino dengan bersepeda motor. Saat perjalanan memasuki daerah Gowa, kami dimanjakan dengan pemandangan alam yang berbukit-bukit. Pasti jika setelah musim hujan, daerah ini sangat hijau, namun karena memasuki musim panas yang apalgi  musim panas tahun ini lebih lama dan temperature lebih panas, maka tak jarang menjumpai bagian sungai yang mengering, dan tumbuhan yang mengering. Setelah 2 jam lebih kami memasuki Kota Malino, udara sejuk sudah mulai terasa. Pukul 13.30 WITA kami sampai di base camp Pendakian ke Gunung Bawakaraeng. Kami memulai pendakian ini dari desa Lembanna. Sebenarnya sangat banyak sekali jalur pendakian ke puncak Bawakaraeng, namun umumnya para pendaki akan memilih jalur dari LembaNna, karena selain menyajikan pemandangan yang sangat menyegarkan mata jalur pendakiannya juga lebih jelas jalannya.

Desa Lembana - Pos 1 (1 jam)
Start dari pukul 14.00 WITA, kami memulai pendakian dari base camp desa Lembana, meskipun cuaca lagi panas tapi angin khas pegunungan masih meniupkan hawa dingin. Jalur ini akan melewati persawahan dan perkebunan milik warga, Jalur yang sangat panjang dan landai. Pukul 15.00 WITA kami sampai di Pos 1.

Tugu Rute Pendakian di Desa Lembanna


Pos 1 - Pos 2 (20 menit)
Belum hilang capek perjalanan dari Kota Makassar ke base camp, ditambah dengan cuaca yang lagi panas - panasnya, start pendakian tersebut sangat melelahkan, kami beristirahat untuk minum dan menghirup udara segar khas pegunungan. Pukul 15.20 WITA kami memulai lagi menuju pemberhentian pos selanjutnya. Letak pos 2 tidak jauh dari pos 1. Melewati sedikit pohon - pohon tumbang kita sampai di pos 2 pukul 15.40 WITA.

Pos 2 - pos 3 ( 10 menit)
Setelah sampai di pos 2, kami berhenti sejenak, kemudian melanjutkan perjalanan lagi ke pos 3. Setelah melewati aliran sungai kecil kami sampai di pos 3 pukul 16.10 WITA.

Jalur Menuju Pos 3

Pos 3 - Pos 4 ( 40 menit)
Dari pos 3 ke pos 4 kami menemukan beberapa bagian pohon tumbang bekas terbakar, entah ulah siapa, namun yang jelas harusnya tidak terjadi. Pukul 16.40 WITA kita sampai di Pos 4. Teriknya panas matahari ini, bener-bener sangat menyengat, udara dan angin khas pegunungan belum sanggup menandingi panasnya matahari. Keringat bercucuran, deru nafas sudah tersendal - sendal. Kami memutuskan berhenti untuk membasahi kerongkongan dan mengatur ritme nafas lagi.


Beristirahat di Pos 4

Pos 4 - Pos 5 ( 1 jam)
Dari Pos 4 menuju Pos 5 kita akan memasuki vegetasi hutan khas Sulawesi, bagi saya pendaki dari jawa, sangat jarang menemui beberapa jenis tanaman tersebut. di beberapa jalur juga kami disuguhi panorama alam yang memukau. Sedikit mengobati rasa lelah kami. Setelah hampir sejam kami berjalan kami sampai di Pos 5 pukul 17.55. Fisik sudah terkuras, Matahari sudah tidak menampakkan kilaunya, berganti dengan sedikit lengkungan bulan. Di pos 5 sangat lapang dan terdapat sumber air dibawah. Tempat yang sangat cocok untuk mendirikan tenda. Kami memutuskan untuk bermalam disini. Malam hari disini sangat dingin. Angin yang bertiup tidak "nyantai", beberapa tenda kami tertiup angin sampai harus "bergoyang-goyang".

 
Malam Hari di Pos 5

Pos 5 - Pos 6 (30 menit)
Setelah bermalam di pos 5, kami memutuskan untuk menuju puncak pada hari ini 19 Oktober 2015. Kami memulai lagi perjalanan setelah mengisi perut dan meninggalkan beberapa barang di dalam tenda. Pukul 8.00 kami memulai perjalanan. Jalur di pos 5 menuju pos 6 sering sekali membuat pendaki kebingungan arah karena jalur sering tertutup oleh pohon yang tumbang dengan sendiri. Pada hari itu kebetulan ada beberapa jalur yang bekas terbakar, dan kami sempat mematikan beberapa titik api dengan seadanya. Pukul 8.30 sampai di Pos 6.

Pemandangan Menuju pos 6

Hutan yang sering Menyesatkan Pendaki

Pos 6 - Pos 7 (30 menit)
Jalur dari pos 6 ke pos 7 akan melewati beberapa tanjakan yang cukup menguras tenaga. Disini akan melewati vegetasi hutan khas pegunungan di Sulawesi. Hutan ditumbuhi lelumutan hijau, menambah kesan asri. Pukul 9.05 WITA kami sampai di Pos 7. Kami berhenti sejenak. 

Jalur Menuju Pos 7
Dari Pos 7 ini, pemandangan alam yang ditawarkan sangat mempesona.Saya mengambil kamera untuk mengabadikan beberapa lenskep alam dari pos 7.
 Pemandangan Alam dari Pos 7
 
 Pemandangan Alam dari pos 7

Pos 7 - Pos 8 (1 jam)
Setelah beristirahat cukup lama di pos 7 kami melanjutkan menuju pos 8. Yang paling unik dari rute pendakian guunung bawakaraeng yaitu jalur dari pos 7 - pos 8, karena biasanya jalur pendakian akan cenderung naik seiring dengan pos yang akan dituju. Namun jalur kali ini sungguh berbeda. Jalur menuju pos 8 adalah jalur turunan yang panjang memasuki cekungan lembah perbukitan. Pos 8 biasanya dibuat bermalam untuk beberapa pendaki. Karena terdapat sumber air dari sungai kecil. Sebenarnya di beberapa jalur pendakian akan menemukan beberapa sumber air. Namun kami mendapat informasi dari base camp, jika memasuki bulan kemarau apalagi kemarau kali ini lebih panas, sumber air hanya terdapat di Pos 5 dan Pos 8. Kami sampai di pos 8 pukul 10.30 WITA. Kami disini bertemu dengan beberapa pendaki yang juga sedang beristirahat setelah menuju puncak. Kami berhenti lama disini. 8

Panorama Alam dari Pos 7 ke Pos 8

Sumber Air di Pos

Pos 8 - Pos 9 (30 menit)
Setelah beristirahat dan mengambil air di pos 8, kami meneruskan perjalanan menuju pos 9. Medan jalur yang dilewati cukup menanjak dan didominasi oleh batuan. Masih ada vegetasi tumbuhan disini. Kami memulai perjalanan pukul 11.10 WITA. Pemandangan dari Pos 9 sangat indah. Dari pos 9 ini juga terdapat percabangan jalur pendakian yaitu dari Sinjai. Dari Pos 9 juga dapat menuju lembah yang indah dan biasanya dijadikan perkemahan. Namun karena musim panas, sumber air di lembah tersebut mengering. Kami sampai di Pos 9 pukul 11.40 WITA.

 Panorama dari Pos 9


Pos 9 - pos 10 dan Puncak ( 1 jam)
Terik sengatan matahari menuju puncak sudah sangat menyengat. Namun semangat kami lebih menggelora untuk menuju Puncak Gunung Bawakaraeng ini. Diiringi dengan tiupan angin yang menghembuskan kesegaran dan sedikit membantu menyejukkan pendakian. Pukul 13.00 WITA, alhamdulillah kami sampai di Tugu Puncak gunung Bawakaraeng.
                    
Tugu Puncak Bawakaraeng

Anggota Pendakian Bawakaraeng

Yang unik dari pendakian kali ini adalah kami ditemani seekor anjing yang kami temui di Pos 5. Anjing ini juga membantu menunjukkan arah sewaktu pendakian.  

  
Panorama dari Tugu Puncak Bawakaraeng

Matahari semakin menyengat, kami juga sudah mengabadikan beberapa gambar di Puncak, akhirnya kami pun turun ke pos 10 untuk mengisi perut kami.
Pukul 14.10 WITA kami memutuskan turun. Jalur turun menuju ke Pos 5 yang paling susah jelas dari pos 8 menuju ke pos 7. Tenaga sudah terforsil habis, namun untuk ke Pos 7 kami harus melalui medan tanjakan lagi. Pukul 17.30 WITA kami sampai di Pos 5. Kami menutup kembali tenda kami dan sebagian anggota menyiapkan makan malam untuk cadangan tenaga untuk turun ke base camp di Desa Lembanna. Pukul 19.00 WITA kami bersiap turun dan sampai di desa Lembana sekitar pukul 21.30 WITA.

Saya juga akan memberikan beberapa informasi kepada teman - teman yang akan melakukan pendakian ke Gunung Bawakaraeng

Transportasi :
jika dari Makassar harus ke Terminal lama, dari terminal sungguminasa lanjut dengan kendaraan menuju Malino kemudian turun di desa Lembanna kemudian harus naik ojek atau angkutan pedesaan menuju base camp. Namun saran saya jika berkelompok lebih baik menyewa mobil dengan sewa yang bisa ditawar.

Info :
1. Baca Peraturan dan informasi di base camp mengenai pendakian karena disini biasanya terdapat informasi kondisi dari Gunung Bawakaraeng terkini dan sangat penting bagi pendaki.
2. Gunung Bawakaraeng merupakan gunung pasif dengan tipe perbukitan panjang dengan medan didominasi bebatuan keras dengan vegetasi hutan lumut. Alangkah baiknya jika memulai pendakian di pagi hari, jika sampai di desa Lembanna siang atau sore, maka saya menyarankan untuk menginap di base camp. Karena melakukan perjalanan siang hari disini sangat menguras tenaga, apalagi musim kemarau panjang seperti tahun ini. Sengatan matahari menyebabkan banyak mengeluarkan keringat sehingga harus banyak mengkonsumsi air. Sedangkan di musim kemarau seperti ini, biasanya sumber air di beberapa pos akan mengering.
3. Selalu jaga kebersihan dan hindari mencoret - coret di gunung.
4. Selalu berdoa kepada Tuhan supaya diberi keselamatan dalam setiap kegiatan.


PERJALANAN ITU BUKAN HANYA SEBERAPA JAUH JARAK YANG DITEMPUH. 
BUKAN JUGA HANYA SEBERAPA TINGGI YANG DIDAKI.
TAPI BAGAIMANA CARA MENGAMBIL HIKMAH DAN PELAJARAN DALAM SETIAP LANGKAH PERJALANAN.


SELAMAT MENDAKI KAWAN