Friday, April 24, 2015

Perjalanan Menaklukan Diri ke Kerinci

Mencumbu Sang Indrapura, Puncak Gunung Kerinci (3805 Mdpl)

Tanah Tertinggi di Pulau Seribu Bukit, Sumatera

          Tulisan ini adalah catatan perjalanan saya, menaklukan diri untuk berdiri di puncak gunung Kerinci. Gunung Kerinci mempunyai ketinggian 3805 Mdpl termasuk dalam daftar tujuh puncak tertinggi Indonesia yang merupakan gunung berapi tertinggi di Sumatera dan Indonesia. Gunung kerinci  gunung tertinggi kedua setelah Puncak Jaya (cartenz) di Papua. Kerinci merupakan gunung tinggi  ketiga yang saya daki, setelah dua gunung tinggi lainnya yaitu Semeru dan Rinjani. Dan saya memiiliki pengalaman yang luar biasa di pendakian saya kali ini.

Day 1
Senin  6 april 2015, saya bertemu dengan seorang teman, di bandara Soekarno Hatta. Kami sering melakukan perjalanan bersama. Entah berapa kali, dari tahun 2010 silam. Pesawat yang kita tumpangi akan take off pukul 14.00 WIB. Kami menumpangi pesawat yang sering sekali delay. Beruntung cuma delay beberapa menit dari waktu semula. Pukul 16.00 WIB kami keluar dari bandara Minangkabau di Padang. Sebelumnya kami sudah memesan travel yang akan mengantarkan kita ke Kerinci. Karena teman saya ini sudah lama tinggal di padang, makanya dia hafal betul setiap jengkal seluk beluk kota ini. Kita menunggu di Pol travel tersebut. Travel yang kami tumpangi jurusan Padang - Sungai Penuh akan berangkat pukul 19.00 WIB. Kami akan singgah ke Sungai Penuh, tempat kawan kami, yang akan mengantar dan menemani pendakian kami. Saat perjalanan ke Sungai Penuh, ternyata kita melewati Desa Kersik Tuo, tempat pendakian ke Gunung Kerinci, tapi tujuan kami ke Sungai Penuh. Pukul 3.30 petang kita sampe di Pol travel ini yang ada di Sungai Penuh Jambi. Sebenarnya kita bisa meminta travel itu untuk ke alamat rumah kawan kita di Sungai Penuh, tapi karena kesalahan komunikasi kami dengan supirnya, kami diberhentikan di tempat terakhir, atau di pol travel tersebut. Kawan saya sudah menelpon kami, lalu dia menjemput kami. Ternyata rumahnya sangat dekat dengan Pol travel tersebut.

Day 2
Selasa 7 April 2015. Setelah kami istirahat di rumah kawan, Kami memulai mempersiapkan untuk perjalanan panjang pendakian. Temen saya belanja logistik dengan kawan dari jambi. Pukul 12.30 WIB, kita berempat, saya, temen saya dan dua kawan dari Sungai Penuh bernagkat ke Base Camp Pendakian Kerinci, di desa Kersik Tuo, Kayu Aro Kabpaten Kerinci. Rencana kita akan berangkat sore ini, jam 14.00 dan akan menginap di Shelter 1. Tapi kondisi alam dan kesalahan informasi yang kita dapat tentang pembukaan Jalur pendakian ke Gunung Kerinci, mengakibatkan kita harus menginap semalam di Base Camp Kerinci. Rencana pendakian 3 hari 2 malam kami gagal. Tapi itu tidak menyulutkan semangat saya untuk tetap mendaki Kerinci

Day 3
Rabu 8 April 2015. Semalam kita menginap di Base Camp Kerinci. Saya mendapat informasi banyak tentang pendakian ke Kerinci, bagaimana jalur trackingnya, kondisi alam dan mitos-mitos yang sering terjadi di Gunung Kerinci. Saya juga mendapat kawan baru, seorang pendaki dari Jakarta, yang sangat berani. Dia berniat mendaki Kerinci seorang diri padahal sebelumnya dia belum mendaki ke gunung ini. Akhirnya saya memutuskan untuk mengajaknya bergabung. Pagi itu Kerinci cerah. Nampak berdiri dengan kokohnya Gunung Kerinci diantara perkebunan teh milik PT PN VI. Perkebunan teh ini merupakan perkebunan teh terbesar di Asia Tenggara. Namun sayangnya cuma beberapa orang Indonesia aja yang bisa mencicipi kenikmatan teh Kayu Aro ini. Karena hasil pengolahan teh ini diekspor ke luar negeri.

          View Kerinci dari depan Base Camp

Pukul 07.00 pagi kami berlima memuali pendakian kita dari base camp. Melintasi kampung warga dan perkebunan teh yang terhampar hijau sepenglihatan mata. Tak lupa berhenti di Simpang Tugu Macan yang merupakan ikon dari Gunung Kerinci ini. 

Simpang Tugu Macan
Perjalanan kami lanjutkan, sering kali berjumpa dengan para petani yang akan berangkat ke kebun di sekitar kaki gunung.
Kegiatan Warga di Kaki Gunung Kerinci di Pagi Hari

Setelah berjalan hampir 1,5 jam, tibalah di Pintu Rimba, yang merupakan gerbang menuju jalur pendakian Gunung Kerinci. Pukul 8.30 kami tiba di depan Pintu Rimba, disambut dengan sekawanan kera merah dengan suara kasnya. Dalam batin berkata, "baru di depan Pintu Rimba aja sudah disambut kera, bagaimana perjalanan nanti?". Tapi saya sudah bertekad untuk melanjutkan pendakian ini. Kami berhenti sejenak, untuk sarapan pagi dengan nasi yang telah kita bawa dari base camp, dengan lauk khas ranah Minang yaitu daging balado. Pukul 09.00 setelah makan dan kami berdoa supaya pendakian diberkahi dan membawa manfaat bagi kami semua, serta selalu dalam lindungan Tuhan. Perjalanan pendakian ke puncak Kerinci kami mulai.

Pintu Rimba


Pintu Rimba - Pos 1 (Bangku Panjang) 30 menit
Perjalanan ke pos 1 ini melewati hutan tropis yang masih lebat. Vegetasinya masih terjaga. Jalur trackingnya landai. Tapi medan berlumpur dan masih banyak genangan air hujan. Karena musim hujan masih sering terjadi pada bulan April tahun ini. Selama berjalan 30 menit akhirnya sampai di Pos 1. 

Pos 1 - Pos 2 (Pondok Lumut) 20 menit
Sama seperti jalur sebelumnya jalur ke pos 2 juga masih terbilang landai dengan vegetasi yang cukup terjaga dan jalur yang licin serta becek dan penuh genangan. Di pos ini, terdapat sumber mata air. Kami berhenti untuk mengisi persediaan air. Dari pos 1 ke pos 2 kami berjalan selama 20 menit.

Pos 2 - Pos 3 (Pondok Panorama) 1 jam
Masih melewati tracking yang landai tapi lebih panang. Di pos ini kami bertemu sesama para pendaki lain yang sedang mendaki ke kerinci. Alhamdulillah ternyata kami berlima bukan satu-satunya kelompok pendaki. Tidak jarang di Pos 3 ini kami bertemu hewan pengerat seperti tupai. Setelah istirahat sejenak. Pukul 11.00 kami mulai berjalan lagi.

Pos 3 - Shelter 1 ( 1 jam 30 menit)
Gerimis mulai menemani langkah kaki. Jalur ke Shelter 1 ini sudah mulai naik. Berbeda dari tracking sebelumnya. Di shelter 1 ini sangat lapang dan luas. Biasanya pada waktu pendakian lagi ramai, sering sekali
 pendaki bermalam dan mendirikan tenda disini. Kami berhenti di Shelter 1. Mengeluarkan makanan dan menjalankan sholat. Setelah selesai, tepat pukul 13.00 kami melanjutkan pendakian.

Shelter 1 - Shelter 2 (3 jam 30 menit)
Jalur sudah mulai naik, medan bertambah licin dan jalur yang didominasi oleh tanah yang berlumpur menambah berat perjalanan. Perjalanan ke shelter 2 ini sungguh menguras tenaga dan menghabiskan banyak stamina. Dan saya rasa ini bukan mendaki gunung lagi, tapi sudah memanjat pohon. Karena sering kali kita berjalan dengan bergelantungan pada akar pohon.

Jalur ke Shelter 2

Tanjakan tanpa bonus, ditambah hujan yang semakin lebat. Membuat kaki saya tiba-tiba "Kram". Bekas cidera waktu berolahraga futsal saat bertabrakan dengan teman. Kedua kaki saya tidak bisa bergerak. Sementara tidak ada tempat yang datar untuk meluruskan kaki. Alhasil saya berhenti di akar-akar pohon. Jalur ke shelter 2 ini sungguh tantangan terberat bagi saya dengan kondisi kaki seperti ini.

Ekspresi kelelahan seorang temen 

Setelah berhenti, dan kondisi kaki berangsur membaik, meskipun belum pulih 100%, saya mencoba melanjutakan pendakian dengan jalur yang semakin curam naik tanpa bonus. Hanya bermodal semangat dan keyakinan bahwa "Aku bisa" yang selalu saya camkan dalam hati. Akhirnya sampai di Shelter 2. Jam menunjukkan pukul 16.30. Kondisi cuaca masih hujan, meskipun sudah sedikit reda. Tapi tenaga sudah habis. Rencana awal akan bermalam dan mendirikan tenda di Shelter 3 kami tunda, dengan berbagai pertimbangan. Akhirnya kami memutuskan untuk mendirikan tenda di shelter 2. Kebetulan disini, kami juga mendapati teman pendaki yang bertemu di jalur sebelumnya sudah mendirikan tenda. Di shelter 2 ini, juga terdapat sumber air, jadi untuk cocok bermalam juga.

Day 4
Setelah istirahat semalam, Alhamdulillah kondisi tubuh dan stamina kembali. Kaki yang semalam saya balsemin dengan resep dari dokter yang selalu saya bawa. Akhirnya kami memutuskan untuk melakukan summit di hari ini. Alarm berbunyi, salah satu temen yang setenda bangun, dia mengatakan sudah pukul 02.00. Dengan mata yang masih sayup - sayup, ditambah angin yang kencang dan udara dingin menambah berat untuk bangun. Saya menyiapkan makan sebagai sumber energi agar tidak kelaparan dan lebih bertenaga saat pendakian. Jam menunjukkan pukul 04.00, semua kebutuhan, seperti air minum secukupnya, cemilan coklat dan sedikit makanan yang mengandung karbohidrat telah saya masukkan ke dalam tas kecil. Tidak lupa membawa kamera untuk mengabadikan momen di perjalanan menuju puncak. Setelah melakukan gerakan ringan dan pemanasan. Kami semua berdo'a, agar selalu diberi perlindungan dan keselamtan oleh Tuhan. Beruntung, cuaca cerah, hujan yang mengguyur kami semalam sudah reda, bintang sudah kembali terlihat meskipun tidak seterang yang pernah saya lihat sewaktu di Rinjani atau Semeru. Setidaknya cuaca bersahabat.

Shelter 2 - Shelter 3 ( 1 jam)
Dengan stamina dan kondisi tubuh setelah beristiraht semalam. Kami bisa melakukan perjalanan dari shelter 2 - shelter 3 dengan waktu tempuh 1 jam. Itupun karena kami tidak membawa keril dan beban lebih karena kami tinggal di tenda. Jalur trackingnya hampir sama dengan tracking dari shelter 1 menuju shelter 2. Kami juga merayap dan bergelantungan menaiki akar - akar pohon. Ternyata keputusan kami untuk bermalam di shelter 2 tidak salah. Karena jika kami paksakan untuk bermalam di shelter 3 dengan kondisi tubuh yang sudah melemah, ditambah lagi dengan medan yang berat. Pasti berakibat fatal. Jam menunjukkan pukul 05.00 di tanggal 9 april 2015. Kami berhenti sebentar di shelter 3.

Shelter 3 - Tugu Yudha ( 45 menit)
Di shelter 3 ini sangat luas dan lapang, biasanya para pendaki umumnya mendirikan tenda di tempat ini. Karena disini banyak terdapat sumber air dan dekat dengan puncak. Shelter 3 ini merupakan batas vegetasi tanaman. Karena jalur menuju puncak sudah didominasi oleh pasir yang berkerikil dan batuan cadas. Setelah 45 menit berjalan, sampai di tugu Yudha. Matahari sudah menampakkan kilau sinarnya. Kami berhenti sejenak, untuk menikmati sapuan hangat sinar matahari. Tak lupa mengabadikan beberapa foto disini. Jika beruntung dan cuaca lagi cerah - cerahnya. Kita bisa melihat di samping kanan jalur pendaki atau ke arah timur, Danau Tujuh Gunung. 


Danau Tujuh Gunung yang Berselimut Awan


Sunrise di Tugu Yudha

Tugu Yudha

Tugu Yudha merupakan semuah tugu yang dibuat sebagai memorial seorang pendaki yang meninggal karena memaksakan diri menuju puncak Kerinci saat cuaca lagi buruk dan badai. Pendaki tersebut bernama Yudha. Yang jasadnya juga menghilang dan belum pernah ditemukan. Setelah beristirahat disini, kami melanjutkan perjalanan ke Puncak Indrapura, Sang puncak Gunung Kerinci. Tepat pukul 06.20 kami bertiga sampai. Kedua teman saya yang dari Jambi tidak ikut ke Puncak karena mereka sudah lebih dari 3 kali kesini. Puji syukur saya panjatkan karena bisa menginjakkan kaki dan diberi kesempatan berdiri mencumbu Puncak Gunung tertinggi di Sumatera, Pulau dengan seribu bukit. Perjuangan saya melawan rasa sakit pada kaki terbayar melihat hamparan awan.


Sujud Syukur sudah diberi Kesempatan berdiri di Puncak Kerinci 3805 mdpl

View dari Puncak Kerinci

Tak lupa saya memberi pesan kepada teman - teman pendaki lainnya dengan sebuah tulisan seperti ini :


Biar lebih kekinian, pose antimainstream di puncak Kerinci, meskipun kaki ga bisa lurus karena masih sakit. Kapan lagi bisa pose kayak gini di puncak Kerinci.

Yoga Headstand di atas Lautan Awan Puncak Kerinci

Belerang dari kawah sudah naik, maka kami putuskan untuk turun. Perjalanan turun lebih susah, karena kontur medan yang terjal, berbatu dan berpasir, membuat kami lebih berhati - hati saat turun. setelah sejam turun, tiba di shelter 3. Kemudian kami lanjutkan perjalanan ke shelter 2. Ternyata jalur yang kami lewati waktu gelap sangat terjal, dan sangat susah untuk turunnya. Kami harus bergelantungan lagi pada akar - akar pohon.

Jalur dari shelter 2 ke Shelter 3

Setelah sejam lebih kami menuruni jalur ke shelter 2, pukul  9.30. Selanjutnya kami masak makanan sebagai ganti tenaga yang dipakai sewaktu ke puncak, serta sebagai tenaga persiapan untuk turun. Setelah makan dan packing kembali peralatan ke keril, jam menunjukkan pukul 12.30. Hujan kembali turun. Perjalanan turun diiringi hujan lagi. Jalur yang terjal serta licin membuat kita harus lebih berhati - hati. Sering kali diantara kami jatuh karena terpeleset. Dengan langkah yang sempoyongan dan stamina yang sudah menurun. Kami lanjutkan perjalanan sampai ke Pintu Rimba. Tepat pukul 4.45 menit saya keluar dari Pintu Rimba. Sewaktu keluar dari Pintu Rimba, ternyata cuaca cerah di kaki gunung. Alhamdulillah, perjalanan panjang ke Puncak Indrapura dapat kami tempuh selama 2 hari semalam. Ini adalah perjalanan pendakian tercepat saya, karena saat perjalanan sebelumnya yaitu Rinjani saya butuh waktu 4 hari 3 malam, ke Semeru 3 hari 2 malam untuk naik dan turun. Banyak pelajaran yang dapat saya ambil saat pendakian ini;
1. Strategi dan planning itu tidak cukup satu, harus ada strategi dan planning cadangan, karena yang akan dihapai adalah Alam. Tentu saja kita harus memperhatikan segala kondisi alam dan tentunya kondisi tubuh.
2. Manusia memang memiliki batas kemampuan, tapi selama kita tidak memaksa keluar dari batas kemampuan itu, kita tidak akan pernah melampauinya dan jika kita bisa melampauinya, batasan kita akan naik lagi.
3. Sejujurnya saya tipekal pendaki atau pejalan yang selalu menghindari musim hujan saat melakukan pendakian. Disamping cidera yang mudah kambuh, jalur dan medan akan bertambah berat dan menyulitkan untuk melangkah dan lebih memakan banyak energi dan tenaga. Tapi saat mendaki kerinci, saya dihadapkan cuaca yang gampang berubah-ubah, karena bulan memasuki musim pancaroba. Sebentar panas, tiba - tiba berkabut gelap, kemudian turun hujan. Panas lagi. Sungguh sangat sulit diprediksi cuaca pada musim pancaroba apalagi di gunung. Tapi saya percaya bahwa "Seorang Pilot yang handal itu telah melakukan penerbangan puluhan ribu jam dengan berbagai macam cuaca, Nahkoda yang tangguh itu  pasti telah melewati luasnya samudra dengan menembus badai dan hujan. Begitu juga pendaki. Untuk menjadi pendahwa aki hebat itu harus melewati berbagai macam jalur pendakian serta berbagai macam kondisi cuaca. Dan badai, selalu menyisahkan  Pohon Yang Tangguh dan Kuat". Bukan untuk menjadi kuat atau merasa kuat, tapi lebih kearah keteguhan. Mata yang bersinar dan badan yang tegap saat melangkah. Begituh jalan yang dipilih pendaki.

Saya juga akan memberikan info dan tips kepada teman - teman yang akan melakukan pendakian ke Kerinci

Transportasi
- Gunung Kerinci terletak di desa Kersik Tuo Kayu Aro Kabupaten Kerinci Propinsi Jambi. Pada umumnya jika ingin berkunjung kesana, memilih penerbangan dengan tujuan Bandara Minangkabau Padang, kemudian melanjutkan perjalanan darat selama 6 jam menuju Desa Kersik Tuo. Anda juga dapat memilih penerbangan ke Jambi tapi perjalanan darat lebih lama yaitu sekitar 9-10 jam.
- Jika anda memilih dari kota padang, anda bisa memesan jasa travel untuk menjemput di bandara serta mengantar ke camp Kerinci di Desa Kersik Tuo. Anda bisa menggunakan jasa travel safa marwa di kota padang dengan nomer telepon 085272241684. Anda juga bisa memesan untuk menjemput dan mengantar ke bandara padang kembali. Karena Travel ini memiliki duo Pemberhentian yaitu di Padang dan Sungai Penuh.

saran dan Info semoga bermanfaat :
1. waktu yang tepat melakukan pendakian ke Gunung Kerinci adalah saat musim kemarau, sekitar bulan juni - oktober. Karena pada bulan ini, matahari tepat berada di atas khatulistiwa sehingga sinar matahari bisa menyinari rimbunnya dan lembabnya hutan di jalur pendakian, sehingga jalur lebih padat dan tidak becek.
2. Banyak sekali terdapat sumber air di jalur Pendakian Gunung Kerinci. Tapi sedikit tips dari saya, jika mengambil air jangan sendirian, usahakan ada temen yang menemani sebagai antisipasi jika terjadi hal yang tidak diinginkan.
3. Vegetasi alam hutan di jalur pendakian masih lebat, jika berjalan berkelompok usahakan jarak antara pendaki yang satu dengan yang lain bisa terlihat oleh mata. Jangan sampai cuma bisa mendengar suaranya aja.
4. Jika bermalam usahakan minimal di shelter 1 ke atas guna mencegah serangan hewan buas yang masih sering berkeliaran di Gunung Kerinci.
5. Begitu juga saat turun. Usahakan, minimal jam 17.00 sudah keluar dari pintu rimba, karena jalur dari Pintu Rimba - Pos 3 masih sering dilewati hewan buas yang keluar di atas jam tersebut.
6. Bukan hanya di Laut, di danau atau di gunung, tetap jaga kebersihan dengan membuang sampah pada tempat yang telah disediakan. Saya menemukan banyak sekali kantong sampah yang telah disediakan oleh pihak Taman Nasional Kerinci Seblat di berbagai titik. Tagapi masih saja saya temukan sampah yang berserakan dimana - mana. Tingkat kesadaran akan kebersihan memang masih jadi tantangan dalam pengelolaan wisata di Indonesia. jadi sebagai pendaki mohon jaga kebersihan dan sayangi alam.
7. Selalu berdoa supaya tetap dilindungi dan dijaga oleh Tuhan.

Selamat mendaki kawan



Monday, February 9, 2015

TAKENGON

 TAKENGON
Diantara Keindahan Danau Laut Tawar dan Surga Bagi Penikmat Kopi
(Between The Beauty of Lake Laut Tawar and Heaven For Coffee Lovers)

          Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam bener - bener diberkahi oleh Tuhan. Tidak hanya memiliki keindahan alam baharinya saja, propinsi paling barat Indonesia ini juga memiliki keindahan alam di daerah dataran tingginya, salah satunya yaitu Takengon. Takengon adalah sebuah daerah di Aceh Tengah. Yang merupakan ibukota dari daerah ini. Topografi daerahnya yang berbukit dan berada di pegunungan, menghasilkan potensi alam yang sangat indah. Dan patut dikembangkan untuk daerah wisata. Objek wisata yang terkenal di Takengon yaitu Danau Laut Tawar. Selain memiliki alam yang indah, Takengon juga memiliki tanah yang subur. Tak jarang hasil bumi dari daerah ini seperti sayuran dan buah-buahan dikirim ke daerah Aceh yang lain.  Bagi penikmat dan pecinta kopi, Kopi Gayo (sebutan nama kopi di Takengon) pasti sudah tak asing lagi namanya. Bahkan kenikmatan kopi di Takengon ini sudah mendunia. Tak jarang banyak wisatawan ke sini tak  hanya menikmati keindahan alamnya saja, tetapi juga untuk sekedar membeli kopi sebagai oleh - oleh.
              (Nanggroe Aceh Darussalam surely blessed by God. This Province Not only have beauty natures of maritime, the most western province of Indonesia's, also have beauty natures of high land, one of them is Takengon. Takengon is a city in Central of Aceh. This city is capitaly of region. Region topoghrapy is hilly and cover by mountain so this region has very beautiful nature potential. And should be developed for tourist area. Famous tourist spot at Takengon is Laut Tawar Lake. Besides has beautiful nature, Takengon also has fertile soil. Not rare agriculture products this region look like vegetables and fruits delivered to another Aceh region. For Coffe lover, Gayo coffe (designation coffe in Takengon) would have been familiar. Even the coffe enjoyment at Takengon is already global. Not rare many tourism go here not only enjoy beautiful nature, but also for buy coffe to souvenir.)
          
           Keindahan alam kota Takengon ini tak lepas dari keindahan panorama Danau Laut Tawar. Danau Laut Tawar ini berada di sisi barat dari kota Takengon, tepatnya berada di dataran tinggi Gayo. Danau ini merupakan danau terluas di Propinsi Nangroe Aceh Darussalam. Berbeda dengan kebanyakan warga Aceh yang lain, penduduk disini  merupakan suku Gayo. Yang memiliki bahasa berbeda dengan bahasa Aceh lainnya. Pasti sudah tau keanggunan tari Saman dari Aceh kan. Sangking populernya tari ini sangat melegenda dan sering ditampilkan dalam festival budaya bukan hanya di Nusantara tetapi sampai tingkat dunia. Ya, tari Saman sebenarnya berasal dari Aceh Tengah, Dataran Tinggi Gayo.
             (The nature beauty of Takengon City not separare from panoramic beaty Laut Tawar Lake. Location this lake at west side from this city at Gayo Highland. This lake is The Largest at Nangroe Aceh Darussalam. The people in here is different from other Aceh people. Surely the beutiful Saman dance from Aceh. This dance is so popular legendary and often showed in culture festival not only in the archipelago but only word level. This dance come from Center Aceh, Gayo highland)


Panorama Danau Laut Tawar dari atas Bukit 
(Panoramic Laut Tawar Lake from upside hill)

Cobalah berkeliling mengitari danau, maka akan disuguhi dengan panorama alam yang sangat memanjakan mata. Setiap sudut dari danau ini memiliki keindahan yang luar biasa. Recomended bagi mereka yang ingin melepaskan penat dan dari kebisingan kota.
(let's try to woulk around this lake, you will showed in with amazing nature panoramic. Every side this lake have amazing beautiful view. This location very recomended for your which want refresh and avoid the city crowded)

Panorama Danau Laut Tawar
(Laut Tawar Lake Panoramic)

Sepanjang perjalanan selama berkleliling danau ini, kita akan menjumpai kebun kopi. Kopi tumbuh dengan subur dan sehat disini. Kualitas kopinya juga sangat baik, karena selain tanahnya di sepanjang danau ini subur, iklim dan suhunya sangat cocok untuk tanaman kopi.
(As long walk arround this lake, we will see coffe plantation. Coffe is grown fertilize and healthy in here. Coffe quality also well, because in addition to the land in as long this lake is fertile, the climate and the temperature is very well for coffe plantation)

Kebun kopi 
(Coffe Plantation)

Setelah selesai mengitari danau ini, cobalah menikmati keasrian dan keindahan kota Takengon ini. Tepat di pusat kota, terdapat sebuah masjid yang megah dan indah. Masjid Ruhamah, yang merupakan masjid raya di Takengon ini. Sama seperti kota di atas bukit lainnya, Kota ini memiliki hawa yang sejuk dan kualitas udaranya juga masih baik.
(after finish journey arround this lake, let's to try enjoy nature and beautiful this town. At center of this town, there is a big and beautifull mosque. This name Masjid Ruhamah. This mosque is The big mosque in Takengon. Look like another city in upside hill, this town have cool weather and air quality in this town is well)


Masjid Ruhamah  Takengon
(Ruhamah Mosque)

Di sepanjang kota kita akan menjumpai banyak sekali kedai yang menjual kopi. Bagi pecinta kopi, disinilah surganya. Cara penjual kopi ini memasak dan menyajikan kopi sungguh pemandangan yang atraktif. Seperti melihat barista-barista profesional)
(As long side town, we will see many caffe. For coffe lover, in here them paradise's. Them style's for prepare and dispense of coffe really attractive, look like profesional barista's)

Penjual Kopi
(barista coffe)

Transportasi (Transportation)
Untuk menuju ke Kota ini, banyak sekali jalurnya;
(for go to this town, many way to arrive there);
1. Dari Banda Aceh (From Banda Aceh)
Dari Banda Aceh, naik dari terminal bus ke Takengon ( Putra Pelangi atau lainnya). Dari banda Aceh akan memakan waktu 7-8 jam perjalanan 
(from Banda Aceh, by bus at Bus station to Takengon ( by Putra Pelangi bus or another). From Banda Aceh will spend time about 7 - 8 hours.)
2. Dari Medan (from Medan)
Dari Medan, cari pool bus Putra Pelangi arah ke Takengon, lama perjalanan yaitu 12 jam.
(From Medan, looking for Putra Pelangi bus station, and choose bus to Takengon. From this will spend about 12 hours)
3. Dari Lhokseumawe (from Lhokseumawe)
Dari Lhokseumawe, naik bus mini ke arah Takengon. Lama perjalanan sekitar 4 jam.
(from Lhokseumawe, by mini bus to Takengon. from this will spend about 4 hours)

Penginapan (guest house)
Hotel Bunda, Hotel Triarga, Hotel Mahara, Hotel Grand Penamas. Tarif juga bervariasi antara 200 - 500 ribu permalam. (Tarif per night also variation, about 200 - 500 hundred ruphias)

Tips
Jika pergi ke kota ini, usahakan baju tebal atau jaket. Karena daerah ini dingin, apalagi malam hari. 
(if you trip to this town, wearing jacket because temperature in this region is cold, eventhough at night)
Peraturi peraturan dan syariat yang berlaku
(Obedient adjustment and region law)

Tidak akan menyesal dan kecewa jika berkunjung ke kota di Aceh Tengah ini. 
(You won't regret and dissapointed if you travel to town in Center Aceh.) 

VISIT ACEH, VISIT INDONESIA
INDONESIA DANGEROUSLY BEAUTIFUL



Thursday, January 29, 2015

Ayo Singgah ke Rumah Cut Meutia

Ayo Singgah ke Rumah Cut Meutia

              Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Itu sedikit ungkapan yang sering kita dengar. Untuk itu, jika ada waktu luang atau liburan, cobalah kunjungi museum atau bangunan sejarah. Untuk menambah rasa cinta kita terhadap tanah air.
               Sebagai bentuk program VISIT ACEH 2015, Pemerintahan Provinsi Nangroe Aceh Darussalam sering sekali mempromosikan keindahan alamnya. Namun belum mengeksplorasi bangunan bersejarah lainnya. Sebagai contoh adalah Rumah Cut Meutia. Bangunan sejarah ini sebenarnya mempunyai potensi untuk dikembangkan, namun kurangnya perhatian pemerintah dalam hal akses dan akomodasi ke tempat ini.
              Cut Nyak Meutia atau dikenal dengan Cut Meutia adalah pahlawan wanita dari Aceh yang terkenal selain Cut Nyak Dien. Cut Meutia selama 20 tahun telah  memimpin perjuangan melawan penjajahan Belanda di wilayah Aceh Utara. Dari rumah nya inilah beliau aktif dalam memimpin dan mengatur strategi peperangan melawan Belanda itu.

Rumah Cut Meutia

Sama seperti Rumoh (sebutan untuk rumah adat) Aceh yang lainnya, Rumah Cut meutia yang sekarang dijadikan museum, rumah ini memiliki 16 tiang penyangga. Bagi masyarakat Aceh membangun rumah bukan sekedar sebagai hunian saja, tetapi merupakan ekspresi keyakinan terhadap Tuhan. Pengaruh keyakinan masyarakat Aceh terhadap arsitektur bangunan rumahnya dapat dilihat pada orientasi rumah yang selalu berbentuk memanjang dari timur ke barat, yaitu bagian depan menghadap ke timur dan sisi dalam atau belakang yang sakral berada di barat. Arah Barat mencerminkan upaya masyarakat Aceh untuk membangun garis imajiner dengan Ka’bah yang berada di Mekkah.

Bagian dalam rumah

              Selain bangunan rumah, di lokasi ini kita juga bisa melihat beberapa benda tradisional dan bangunan masyarakat aceh

1. Kroeng 
Kroeng dalam bahasa Indonesianya karung adalahtempat untuk menyimpan padi). Berjumlah tiga buah dan berada di halaman rumah.
Krueng (karung)
2. Jeungki
Pada jaman dahulu, sebelum ada mesin penggiling padi, masyarakat aceh menggunakan Jeungki sebagai alat penumbuk padi
Jeungki
3. Balai 
Balai ini berukuran kurang lebih 3 x 4 m. Bangunan ini biasanya dipergunakan untuk tempat berkumpul, ajang silaturahmi, dan tempat bersantai bagi masyarakat aceh.
Balai
4. Monumen Cut Meutia
Sebagai bentuk penghormatan atas perjuangannya melawan belanda, yang pada akhirnya Cut Meutia gugur bersama pasukannya pada tanggal 24 Oktober 1910. Di area rumah ini dibangun monumen perjuangan.
Monumen Cut Meutia
 

Lokasi dan Transportasi
            Rumah Cut Meutia ini berada di Desa Mesjid Pirak, Kecamatan Matangkuli, Aceh Utara. Rumah Cut Meutia dapat ditemui 3 km dari desa Matangkuli, Kecamatan Matangkuli. Rumah Adat Cut Meutia ini dibangun kembali dan di beri pagari atau di beri pagar oleh Pemerintah Aceh sebagai bentuk penghormatan terhadap pahlawan Wanita Nasional dari Aceh ini.
       Untuk menuju ke lokasi rumah Cut Meutia ini, kita bisa menggunakan kendaraan pribadi. Desa matangkuli ini terletak kurang lebih sekitar 33 kilo meter dari kota Lhokseumawe. Kurang lebih memakan waktu 1-1,5 jam dari kota lhokseumawe.
          Setelah anda sampai di desa matangkuli, anda bisa meneruskan perjalanan anda kurang lebih sekitar 3 kilo meter lagi dari desa matangkuli ini untuk menemukan lokasi dari rumah adat Pahlawan wanita Nasional yang berasal dari Aceh ini. Jangan khawatir, perjalanan anda ke lokasi ini tidak akan sia-sia karena keindahan alam dan suasana pedesaan ditambah lagi dengan area persawahan di daerah Matangkuli tidak akan membuat anda bosan.

Tips:
1. Menyewa mobil rental atau supir penduduk lokal, karena kurangnya perhatian pemerintah mengenai akses jalan menuju kesana. Tidak ada jalan penunjuk arah untuk menuju kesana yang lumayan masuk ke perkampungan warga.
2. Bagi wisatawan diharap membawa makan sendiri, karena disana hanya ada kurang dari 5 warung yang hanya menjual makanan ringan saja. Dan jangan lupa membawa plastik untuk membuang sampah sisa makanan untuk menjaga kebersihan. Kebersihan menjadi permasalahan utama bagi dinas pariwisata di Aceh, karena masyarakat Aceh kurang sadar akan kebersihan dan pentingnya kebersihan tempat wisata. Aceh punya alam dan keaneka ragaman budaya yang khas, tapi percuma kan kalau masyarakatnya tidak bisa menjaga.
Bagaimana? Yuk berkunjung ke Aceh, dan jika ke Lhokseumawe, jangan lewatkan tempat ini dari daftar liburan anda. Dan dukung Pemerintah Nanggroe Aceh Darussalam mensukseskan program wisatanya yang bertajuk "VISIT ACEH 2015".






Wednesday, January 28, 2015

Pulau Weh, Surga di Ujung Barat Indonesia



Pulau Weh, Surga Indonesia di Ujung Barat
“Dari Sabang sampai merauke berjajar Pulau – Pulau”, masih inget kan salah satu cuplikan lagu Nasional tersebut. Indonesia itu dari sabang sampai merauke. Sabang merupakan kota yang berada di Pulau weh yang menjadi salah satu primadona bagi Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) untuk program yang bertajuk VISIT ACEH 2015. Pulau weh menjadi destinasi terbaik bagi pecintai pantai dan laut, apalagi untuk diver (penyelam) karena memiliki banyak spot penyelaman. Sepanjang garis di Pulau weh, memiliki pantai yang indah, dengan pasir putih yang lembut, dengan view yang menentramkan. Recommended bagi yang pengen liburan dan mencari suasana baru.

Transportasi
Ke Pulau Weh
Untuk ke Pulau weh dari Jakarta anda dapat memilih penerbangan langsung Jakarta – sabang (dibuka mulai bulan februari 2015). Atau dari Jakarta ke banda aceh (Bandara Sultan Iskandar Muda). Dari Bandara Sultan Iskandar muda dilanjutkan dengan Kendaraan umum (labi-labi) atau menyewa travel ke pelabuhan Ulee Lheue. Ada beberapa jadwal penyebrangan ke pulau weh dengan jenis kapal yang berbeda – beda juga. Pilih menggunakan  kapal cepat untuk menyebrang ke pulau weh, jenis nama armada kapal penyebrangan yaitu EXPRESS BAHARI.
Berikut jadwal penyebrangan dari Pelabuhan Ulee Lheue dan sebaliknya :
 
                         
Pilih duduk di dek atas kapal, meskipun agak panas, tapi view dari atas dek kapal ini sangat menakjubkan. Terlihat pemandangan pulau-pulau kecil di sekitar.
 
                      View dari atas dek kapal               
Setelah 45 menit perjalanan, akhirnya sampai di Pelabuhan Balohan. Sampai disana, aku memilih naek bentor untuk dianter ke penginapan. Saya menginap di daerah pantai Iboih. Ada dua penginapan recommended dengan harga yang terjangkau, tempat yang nyaman, dengan view yang menakjubkan. Iboih inn dan Yulia. Tapi saya memilih di iboih inn.
                Selama perjalanan dari Balohan ke Iboih, mata akan dimanjakan dengan view yang bener-bener membuat takjub. Subhanallah.  Itulah kata yang terucap. Pulau weh bener -  bener indah.
Panorama selama Perjalanan
                Setelah 1.5 jam perjalanan, dari pelabuhan ke penginapan, akhirnya sampai juga ke pantai iboih. Tapi dari tempat terakhir kendaraan bisa masuk menuju ke penginapan, masih harus jalan 500 m lagi.

Pantai Iboih
Mengapa merecomendasikan menginap di Iboih inn? Mungkin dengan view-view seperti ini kalian bisa menilai sendiri.

Panorama depan Iboih Inn
Di iboih inn juga bisa menyewakan peralatan snorkeling dan penyewaan kapal untuk ke pulau rubiah. Pulau rubiah, spot yang menarik buat diving. Lokasinya tepat berada di depan Iboih inn.
Destinasi
Berikut beberapa tempat yang wajib dikunjungi selama di pulau weh.
1. Anoi Itam


Anoi itam, merupakan pantai di Pulau sabang yang memiliki pasir hitam lembut di sekitar pantai ini, lokasinya di atas bukit karang, terdapat benteng atau menara pengintai bekas perang dunia ke dua milik Jepang, penduduk sekitar menyebutnya dengan Goa Jepang.
 
 bungker tentara jepang   

                                                meriam tentara jepang                                                          
kalau melihat tempatnya sih, lumayan serem. Tapi tahu ga  kenapa tentara jepang betah banget ngawasin kapal musuh dari menara ini. Viewnya beroo

View dari menara pengawas jepang
2. Pantai Sumur Tiga.
Disebut Sumur Tiga, karena menurut penduduk sekitar ada sumber air di pantai ini yang berjumlah 3 sumber mata air. Pantai disini juga ga kalah keren dengan pantai di sabang yang lain.
Panorama Pantai Sumur Tiga


Pagi hari di Sumur Tiga
Di sekitar pantai ini ada tempat penginapan yang sangat recommended sekali yaitu Casanemo dan Fredive. Berikut view di depan Casanemo Cottage,

Bersantai di depan Casanemo Cottage

3. Pantai Gapang
Pantai gapang ini juga memiliki air yang sangat jernih. Lokasinya tidak jauh dari pantai Iboih.

Panorama Pantai Gapang
4. Tugu Nol Kilometer Indonesia
Gak lengkap kalo ke Pulau weh atau sabang tapi gak ke Tugu Nol Kilometer Indonesia. Ga ada bukti kalo kita ke sabang pulau weh. Karena disini juga ada orang yang berjualan semacam sertifikat kalau kita pernah ke sabang.

Tugu Nol Kilometer Indonesia

5. Pantai Iboih
Mengapa merecomendasikan memilih menginap di Pantai iboih, karena emang disini lah spot terbaik untuk melihat sunset sekaligus sunrise yang keren. Pasirnya putih lembut, airnya jernih, suasananya nyaman dan tentram, “Little Paradise” di surga Indonesia paling barat.
Sunset di pantai Iboih


Pagi hari di Pantai Iboih

Santai bang ini di Sabang (bersantai depan Iboih inn)

Airnya jernih banget, ikan sampai keliatan semua. Kayak punya aquarium raksasa

View depan Kamar (iboih inn)
Sunrise di depan Iboih Inn
Sunset di Iboih Inn
6. Jalan Baru
Masyarakat sekitar menyebutnya dengan jalan baru. Jalan yang baru saja dibangun untuk menghubungkan dari kota pusat kota sabang ke pelabuhan balohan. Dari sini akan melihat view yang bener-bener dahsyat. Dan Merupakan spot favorit untuk memotret keindahan panorama Pulau weh.
 view dari atas jalan baru

Transportasi

                - Sewa Bentor dari pelabuhan balohan ke Iboih Inn = Rp 50.000
                - Sewa Bentor keliling sabang sehari = Rp 250.000
                - Sewa Motor = Rp 100.000
                - Penyebrangan Rp 95.000 x 2 kali = Rp 190.000

Penginapan
 Iboih Inn semalam berkisar antara 200 – 600 ribu per night,
Casanemo dan Fredive 400 ribu – 1 juta

Tips :
Membawa senter karena jalan menuju penginapan di sabang umumnya tidak ada akses penerangan, listrik susah disana. Sering terjadi pemadaman listrik


Contoh itinerary :
Hari pertama :
-Dari pelabuhan balohan ke Pantai Gampang, lanjut ke Pantai Iboih (menginap di iboih inn), sunset di Tugu Nol Kilometer.
Hari Kedua :
Snorkeling atau diving di Iboihh, siang hari menuju Jalan Baru pantai Anoi Itam, Goa Jepang, dan Sunset di Pantai Sumur Tiga. Berkeliling di Kota sabang (kuliner dan membeli oleh-oleh), Menginap di Casanemo
Hari Ketiga :
Cek out Pulang